
Pembuka: Kembalinya Raksasa Sepakbola Wanita
Setelah 12 tahun hiatus yang panjang, timnas korea utara wanita akhirnya kembali meramaikan Piala Asia Wanita 2026. Ini bukan hanya penampilan biasa, melainkan kembalinya “Sang Raksasa” yang pernah menjadi runner-up di edisi 2010. Namun, perjalanan mereka tidaklah mulus; skandal doping pada 2011 dan pandemi COVID-19 menjadi hambatan berat yang harus merekalewati.
Analisis Mendalam: Dari Skandal ke Kebangkitan
Perjalanan Korea Utara dalam sepakbola wanita penuh dengan lika-liku. Pada 2010, tim ini berhasil menjadi runner-up setelah dikalahkan Australia dengan skor 2-1. Namun, skandal doping pada 2011 menghantam mereka, menyebabkan FIFA menerapkan sanksi larangan bermain selama empat tahun.
Selain itu, Korea Utara juga terpaksa melewatkan Piala Dunia 2011 dan 2015, serta gagal melaju ke Piala Asia 2018 dan 2022 karena pandemi. Kembalinya mereka kali ini menjadi titik balik penting, mengingat tim ini memiliki potensi untuk menyaingi negara-negara kuat di Asia.
Statistik Kunci: Mengejar Impresi Masa Lalu
Di edisi terakhir Piala Asia 2010, Eastern Azaleas mencatatkan beberapa statistik menjanjikan. Mereka berhasil mencetak 5 gol dalam 3 pertandingan, dengan rasio keterlibatan yang tinggi dari setiap pemain. Namun, kekalahan dari Australia di final menjadi batu loncatan untuk perbaikan strategis.
Di tahun 2026, Korea Utara diharapkan menerapkan taktik yang lebih defensif namun efektif, dengan fokus pada serangan balik cepat. Pelatih Cho Myong-guk diperkirakan akan menurunkan skuad yang lebih muda namun berpengalaman, untuk memastikan kebugaran dan adaptasi yang baik.
Penutup: Prediksi dan Harapan
Dengan kembalinya Korea Utara, Piala Asia Wanita 2026 diprediksi akan lebih kompetitif. Meski tantangan besar menanti, tim ini memiliki modal kuat untuk merebut peringkat tinggi. Penggemar sepakbola di tanah air dapat mulai memantau perkembangan tim ini, karena kompetisi ini menjadi ajang penting sebelum Piala Dunia Wanita 2027.












