
Latar Belakang
Seabad pertama,NU terbukti sebagai jangkar Islam ramah, melindungi tradisi Nusantara dengan Aswaja. Namun, diabad kedua, simbol kultural seperti sarung dan kitab kuning menghadapi tantangan zaman yang tak terelakkan.
Fakta Penting
NU kini berada di persimpangan, sebagai organisasi Islam terbesar dengan akar kultural kuat, namun terhambat dalam merespons disrupsi zaman. Jargon “NU tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana” terdengar usang, bahkan membenarkan sikap ambivalen yang tidak memberikan manfaat nyata bagi warga nahdliyin.
Dampak Sosial dan Politik
NU berada di titik kritis, memerlukan refleksi mendalam untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan. Dengan posisi strategisnya, organisasi ini harus mampu menyesuaikan diri tanpa mengorbankan identitas tradisinya. Pertanyaan yang muncul: Bisakah NU tetap relevan dalam era yang semakin dinamis?
Penutup
NU harus mengambil langkah strategis untuk tetap menjadi pemain aktif dalam skenario perubahan sosial dan politik. Refleksi dan transformasi yang berbasis pada visi aslinya adalah kunci agar NU tetap menjadi organisasi yang berpengaruh di abad kedua ini.












