Berita

Lebaranomics: Negeri Berlebaran, Lumbung Terkoyak

×

Lebaranomics: Negeri Berlebaran, Lumbung Terkoyak

Sebarkan artikel ini
Lebaranomics: Negeri Berlebaran, Lumbung Terkoyak
Lebaranomics: Negeri Berlebaran, Lumbung Terkoyak

Pendahuluan
Setiap tahun menjelang Lebaran, kita tak perlu survei canggih untuk memprediksi dua fenomena: jalanan padat dan hotel penuh. Cukup cek pemesanan kamar di aplikasi perjalanan, dan Anda akan menemukan tanda “habis terjual” di hampir setiap destinasi wisata favorit. Ini bukan kejutan, melainkan siklus tahunan yang sudah bisa diprediksi.
Namun, di balik keramaian ini tersembunyi ironi yang memprihatinkan. Meski lonjakan wisatawan sudah pasti terjadi, lonjakan penerimaan pajak pariwisata daerah tak selalu menyusul. Kebocoran pajak di hotel, restoran, dan parkir di daerah wisata terus berulang, menjadi tradisi tak tertulis yang abadinya sama dengan tradisi mudik.
Lebaranomics: Fenomena yang Mengherankan
Inilah yang saya sebut sebagai Lebaranomics. Momen Lebaran secara serentak menggerakkan perjalanan, konsumsi, dan transaksi dalam skala masif. Namun, potensi fiskalnya belum pernah benar-benar dioptimalkan oleh pemerintah daerah.
Dampak Sosial dan Politik
Ironisnya, kebocoran pajak ini terjadi saat pemerintah daerah seharusnya meraup manfaat ekonomi dari lonjakan wisatawan. Dampaknya tidak hanya pada keuangan daerah, tetapi juga pada kualitas infrastruktur dan layanan publik yang mungkin terhambat.
Penutup
Lebaranomics adalah fenomena yang menantang. Di satu sisi, kita melihat potensi ekonomi yang luar biasa. Di sisi lain, ada kebocoran yang terus berulang, menghambat upaya pengembangan daerah. Pertanyaannya, apakah kita siap mengoptimalkan momen Lebaran untuk manfaat lebih besar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *