
Hamas mengebrak rencana Indonesia mengirim ribuan pasukan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF). Pemimpin senior Hamas, Osama Hamdan, menuntut batasan wilayah kerja dan pembenahan tugas pasukan internasional, termasuk dari Indonesia. Hamas menekankan peran ISF harus netral, fokus mencegah agresi Israel dan menjaga gencatan senjata.
Latar Belakang
ISF adalah pasukan keamanan multinasional yang diamanatkan PBB, dibentuk sebagai bagian dari rencana perdamaian Gaza pada akhir 2025. Indonesia, sebagai salah satu kontributor utama, merencanakan pengiriman ribuan tentara ke wilayah konflik tersebut. Namun, Hamas mengecam rencana ini, menuntut keterbatasan wilayah dan tujuan operasi pasukan.
Fakta Penting
1. Hamas meminta batasan wilayah kerja ISF hanya di perbatasan Gaza, bukan di dalam wilayah.
2. Tugas pasukan harus jelas, yaitu mencegah agresi Israel dan memastikan pelanggaran gencatan senjata dihentikan.
3. ISF dibentuk sebagai usaha internasional untuk menstabilkan Gaza, namun Hamas menilai rencana Indonesia perlu dikaji ulang.
Dampak
Pernyataan Hamas menggugurkan rencana Indonesia mengirim pasukan ke Gaza menjadi sorotan internasional. Ini menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan luar negeri Indonesia di kawasan Timur Tengah. Apakah upaya perdamaian Gaza akan terganggu, ataukah Indonesia akan menyesuaikan rencananya sesuai permintaan Hamas?
Penutup
Hamas Minta Pasukan Perdamaian Gaza Netral, Apa Artinya Bagi RI? Pergeseran ini tidak hanya mempengaruhi rencana Indonesia, tetapi juga menandai dinamika baru dalam usaha perdamaian Gaza. Indonesia harus hati-hati mempertimbangkan implikasi politik dan strategis dari permintaan Hamas, sambil tetap memastikan peran aktifnya dalam upaya internasional untuk kemanusiaan di wilayah tersebut.












